BeritaHotIndonesia

Corona Belum Selesai, Flu Burung Mengintai. Apa Indonesia Siap?

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Barangkali demikian perumpamaan yang paling tepat untuk Pemerintah Cina saat ini. Ketika tengah bergelut dengan wabah Corona, yang telah menewaskan 425 orang per Senin (3/2/2020) malam, muncul satu kabar lain yang tak kalah mengkhawatirkan: H5N1 atau jenis flu burung terdeteksi di Provinsi Hunan. Wabah itu muncul di pertanian di Kota Shaoyang, menurut Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Cina. Dari 7.850 ayam di peternakan, 4.500 meninggal, tulis Reuters. Untuk mengantisipasi penyebaran, 17.828 unggas langsung dimusnahkan. Flu burung ringkasnya adalah jenis penyakit influenza yang ditularkan oleh unggas kepada manusia–dalam kasus ini belum ditemukan penularan ke manusia. Mereka yang terjangkiti mengalami gejala demam, sakit kepala, pegal-pegal, pilek, batuk, dan sesak. WHO melaporkan sejak 2003 sampai tahun lalu, ada 861 penularan virus dari unggas ke manusia. Lebih dari setengahnya, tepatnya 455, menyebabkan kematian. Di Cina sendiri tercatat 31 orang meninggal karena flu burung sepanjang 16 tahun terakhir. Corona, yang juga berasal dari Cina, kini sudah jadi wabah global karena ia dapat menyebar dari manusia ke manusia. Sementara flu burung yang baru ditemukan ini belum sampai pada tingkat itu. Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (P2P Kemenkes) Achmad Yurianto menyampaikan belum ada informasi mengenai Warga Negara Indonesia (WNI) di Cina yang tertular virus tersebut. “Yang di sini aja (WNI dari Cina yang dipindahkan sementara ke Natuna karena antisipasi Corona) belum ada yang tertular,” ungkap Yuri kepada reporter Tirto, Senin (3/2/2020). Baca juga: Flu Burung (Kembali) Meneror Warga Dunia Antisipasi Dibutuhkan pola hidup sehat dan bersih untuk terhindar dari virus ini, kata Yuri. “Kalau memang mau pelihara burung, dipelihara dengan benar. Bersihkan kandangnya secara rutin,” katanya mencontohkan. Penggunaan masker juga penting. “Etikanya, yang sakit mengenakan masker, supaya kalau dia batuk, bersin, enggak menularkan ke orang lain. Tapi kalau di kerumunan banyak orang, kita kan enggak tahu apakah ada yang sakit atau nggak, jadi sebaiknya yang sehat juga pakai masker,” jelasnya. Masker tak hanya terbatas untuk menekan penularan flu burung, melainkan juga virus lain, termasuk Corona. Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Faisal Yunus menegaskan sampai saat ini Corona belum ada vaksinnya. “[Vaksin] flu burung saja cukup lama dulu,” ujar Faisal kepada reporter Tirto. Meski begitu, mereka yang terkena Corona tetap bisa sembuh secara alami. “Dia (Corona) seharusnya sembuh sendiri. Sulit untuk sembuh itu saat daya tahan tubuhnya tidak kuat, atau ada penyakit lain. Makanya kalau dibandingkan, yang terinfeksi banyak, tapi yang meninggal sedikit. Jadi yang meninggal itu umumnya yang sudah tua, atau ada penyakit lain,” jelas Faisal. Karena belum ada obatnya, orang yang terjangkit Corona biasanya dirawat seperti orang yang terkena flu pada umumnya. “Paling penanganannya ya minum air yang cukup, menjaga makanan, istirahat. Jadi diperlakukannya seperti flu,” jelas Faisal.

Fasilitas Flu Burung untuk Corona Indonesia, bisa dibilang, lebih berpengalaman menangani kasus flu burung. Saat ini bahkan sudah ada sekitar 80 rumah sakit yang jadi rujukan untuk menangani flu burung. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bahkan mengatakan rumah sakit inilah yang akan dipakai jika ada warga Indonesia yang terkena Corona. Tiga di antaranya: RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, dan RS Persahabatan. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menjelaskan lebih detail apa saja upaya antisipasi pemerintah menghadapi Corona. “Pemerintah telah menyiapkan dan melaksanakan upaya pendeteksian penderita melalui pintu masuk negara dengan mengaktifkan pendeteksi suhu, memeriksa orang dengan gejala batuk atau pilek di bandara atau pelabuhan,” jelas Anung kepada reporter Tirto. “Fasilitas rumah sakit sebanyak seratus rumah sakit dengan fasilitas lengkap sampai pada kondisi kedaruratan,” tambahnya.

Comment here